Makhluk Terbesar di Bumi Ditemukan, Tingginya Setara Gedung 7 Lantai
Paleontolog baru-baru ini menemukan fosil dinosaurus di Argentina, masuk golongan toranosaurus.
Tim paleontolog, seperti dikutip BBC, Sabtu (17/5/2014), mengatakan, "Dinosaurus baru ini adalah hewan paling besar yang pernah hidup di muka Bumi."
Ilmuwan menyimpulkan hal tersebut berdasarkan temuan fosil tulang paha yang ukurannya luar biasa besar, hampir setinggi manusia.
Perkiraan menyebutkan, dinosaurus itu memiliki panjang 40 meter dan tinggi 20 meter dengan leher tegak, setara dengan gedung tujuh lantai.
Mempunyai berat 77 ton, dinosaurus yang baru saja ditemukan itu juga 14 kali lebih berat dari gajah Afrika dan mengalahkan dinosaurus terbesar sebelumnya, Agentinosaurus.
Paleontolog memercayai, dinosaurus jenis tiranosaurus yang ditemukan merupakan pemakan tumbuhan dan hidup pada masa akhir Cretaceous, 95 - 100 juta tahun lalu.
Dinosaurus itu pertama kali ditemukan oleh seorang petani di dekat wilayah La Flecha, sekitar 250 km barat Trelew, Patagonia.
Fosil kemudian diekskavasi oleh tim ilmuwan dari Museum Paleontologi Egidio Feruglio, dipimpin oleh Jose Luis Carbadillo dan Diego Pol.
Tim paleontolog berhasil mengekskavasi tulang belulang dari tujuh individu, sekitar 150 tulang secara total, dalam kondisi yang sangat baik.
Saat ini, ilmuwan belum menamai dinosaurus itu secara resmi. Namanya nanti akan didasarkan pada lokasi tempat penemuan atau petani yang pertama kali menyadari keberadaannya.
Sumber: Kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
76 Tulang Manusia Goa Harimau Akan Dianalisis secara Genetik
Ekskavasi tim Pusat Arkeologi Nasional sejak tahun 2009 telah menemukan total 76 tulang Homo sapiens yang hidup di Goa Harimau dan sekitarnya. Bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, tim arkeolog kini akan melakukan analisis DNA dari tulang itu.
"Kita ingin mengetahui hubungan antara manusia di goa ini dengan manusia sekarang dan manusia-manusia lain di seluruh Nusantara," kata Harry Truman Simanjuntak, arkeolog Pusat Arkeologi Nasional.
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/5/2014), mengatakan bahwa analisis genetik akan dimulai segera setelah sampel DNA diambil.
"Sabtu ini saya akan berangkat. Di lokasi, kita akan pilah mana bagian yang bisa digunakan. Sampel DNA akan kita ambil dari tulang gigi, kalau ada, atau kalau tidak dari bagian tulang padat," kata Herawati.
DNA yang nantinya diambil akan diisolasi terlebih dahulu sebelum diperbanyak dengan bantuan enzim. Selanjutnya, DNA akan diurutkan dan dibandingkan dengan pusat data DNA manusia Indonesia yang telah dimiliki Eijkman.
"Saat ini kita sudah memiliki database dari berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Gayo untuk wilayah yang paling barat sampai sejumlah wilayah Indonesia timur," ungkap Herawati.
Herawati mengatakan, paduan data genetik dan analisis karbon akan mampu mengungkap identitas manusia Goa Harimau, asal usulnya dan kekerabatannya dengan manusia sekitar situs itu saat ini.
Herawati mengatakan, bila usia kerangka antara 1.500 - 3.500 tahun, maka kerangka itu adalah milik manusia yang bermigrasi ke Nusantara dari wilayah Taiwan purba. Bila usianya hingga 20.000 tahun, kerangka itu mungkin milik manusia pertama yang bermigrasi ke Nusantara dari Afrika.
Harry mengungkapkan, sejauh ini, analisis karbon mengungkap bahwa usia 76 kerangka yang ditemukan sekitar 3.500 tahun.
Sumber: Kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
Teliti DNA Manusia Goa Harimau, Arkeolog Akan Ungkap Moyang Bangsa Indonesia
Siapa nenek moyang bangsa Indonesia? Dengan meneliti DNA kerangka manusia di Goa Harimau, arkeolog berniat mengungkapnya.
Sejumlah 76 kerangka yang akan dianalisis didapatkan dari ekskavasi tim arkeologi Pusat Arkeologi Nasional sejak tahun 2009 di Goa Harimau, Sumatera Selatan.
Analisis DNA akan dilakukan lewat kerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta.
Direktur Lembaga Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan, proses akan dimulai dengan isolasi, perbanyakan DNA, dan analisis dengan membandingkan DNA dari manusia Indonesia saat ini.
Ia mengatakan, Eijkman sudah memiliki data DNA dari manusia Indonesia, mulai dari Gayo hingga sejumlah wilayah di Indonesia Timur.
Arkeolog Pusat Arkeologi Nasional yang terlibat riset Goa Harimau mengatakan, analisis DNA akan membantu mengungkap atau membuktikan teori tentang leluhur bangsa Indonesia.
"Kita bisa mengungkap apakah manusia di Goa Harimau memiliki kekerabatan dengan manusia modern saat ini di sekitarnya," katanya kepada Kompas.com, Senin (19/5/2014).
"Secara regional, kita juga bisa membandingkan dengan manusia di wilayah Sumatera dan lainnya, mengetahui kekerabatannya dengan manusia Indonesia," imbuhnya.
Harry mengatakan, analisis karbon yang telah dilakukan mengungkap bahwa kerangka manusia di Goa Harimau berusia 3.500 tahun.
Ia memercayai bahwa kerangka itu adalah manusia Austronesia yang bermigrasi ke Nusantara dari Formosa ke wilayah Nusantara. "Mereka adalah leluhur bangsa kita," katanya.
Teori bahwa manusia Indonesia berasal dari Formosa telah disinggung dalam banyak literatur.
Riset DNA manusia Goa Harimau dapat menguatkannya.
Sumber: Kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
Remaja 15 Tahun Kembangkan Cara Murah Tes HIV

Simon Fraser University
Remaja putri berusia 15 tahun dari York House School di Vancouver, Kanada, Nicole Ticea, mengembangkan inovasi menarik, cara murah tes HIV.
Cara murah tes HIV diperlukan karena banyak orang yang terinfeksi HIV hidup di tempat di mana fasilitas tes kurang memadai.
Tes HIV pada umumnya, seperti metode ELISA, menentukan status seseorang positif atau negatif berdasarkan antibodi yang terdeteksi.
Namun, cara Ticea berbeda. Metode yang dikembangkan Ticea menentukan status seseorang berdasarkan ada tidaknya virus HIV itu sendiri di dalam darah.
Untuk melakukan tes, pengguna cukup meneteskan darah pada sebuah cip. Hasil tes akan didapatkan sesaat kemudian. Tes ini cuma sedikit lebih sulit dari tes kehamilan.
Cara yang dikembangkan Ticea berguna karena bisa menentukan status seseorang walaupun tubuhnya belum memproduksi antibodi. Cara ini meniadakan masa jendela.
Selain itu, dengan biaya yang murah, cara yang dikembangkan Ticea juga mengatasi tes HIV berbasis ada tidaknya virus yang selama ini mahal dan memakan waktu.
Metode tes yang dikembangkan Ticea bernama Isothermic Nucleic Acid Amplification. Ticea berkolaborasi dengan Simon Fraser University untuk mengembangkannya.
Diberitakan situs IFLScience.com, Senin (12/5/2014), Ticea menjadi juara pertama dalam ajang Sanofi BioGENEius Challenge wilayah British Columbia lewat inovasinya.
Minggu depan, inovasi Ticea akan maju ke tingkat nasional. Bila menang, Ticea akan maju ke kompetisi internasional di San Diego, Amerika Serikat.
sains.kompas.com
Sperma Raksasa Tertua Ditemukan, Panjangnya 23 Kali Milik Manusia
Sperma raksasa berusia 17 juta tahun ditemukan di situs Riversleigh, dekat Queensland, Australia. Sperma raksasa itu adalah milik organisme golongan ostracoda, sejenis udang-udangan, kadang disebut udang biji.
Bersama sel sperma, ditemukan juga organ Zenker, organ berbahan kitin, berfungsi mentransfer sperma kepada betina, yang terawetkan dengan baik. Panjang sperma ostracoda 1,3 mm, sedikit lebih besar dari ukuran ostracoda itu sendiri dan 23 kali lebih besar dari sperma manusia (sekitar 0,055 mm).
"Ini adalah fosil sperma tertua yang pernah ditemukan," kata Mike Archer, peneliti Sekolah Biologi, Kebumian, dan Lingkungan, Universitas New South Wales, yang telah mengekskavasi Riversleigh selama 35 tahun.
Cerita penemuan fosil sperma tertua itu bermula ketika Archer bersama rekannya, Suzanne Hand dan Henk Godthelp, mengoleksi spesimen ostracoda dari situs Bitesantennary di Riversleigh pada tahun 1988.
Sampel itu lalu dikirim kepada John Neil, spesialis ostracoda dari La Trobe University. Neil bekerja sama dengan spesialis lain, Renate Matzke-Karasz dari Ludwig Maximilian University, di Munich, dan Paul Tafforeau dari European Synchrotron Radiation Facility di Perancis.
Analisis mikroskopik pada spesimen menunjukkan bahwa organ dalam makhluk itu masih dalam kondisi baik. Dalam organ dalam itu, ilmuwan menemukan sperma raksasa beserta inti sel-nya yang mengandung materi genetik.
"Sekitar 17 juta tahun lalu, situs Bisantennary adalah goa di tengah hutan hujan yang kaya keanekaragaman hayati. Ostracoda yang kecil hidup di genangan dalam goa yang yang terus diperkaya oleh kotoran ribuan kelelawar," ungkap Archer seperti dikutip Physorg, Rabu (14/5/2014).
Suzzane Hand, ahli kelelawar yang sudah punah, menuturkan, kotoran kelelawar bisa jadi juga memainkan peranan penting dalam mengawetkan sperma raksasa. Kotoran kelelawar membuat air kaya akan fosfor, memicu mineralisasi jaringan-jaringan lunak pada ostracoda.
Beragam temuan menarik dihasilkan dari ekskavasi di Riversleigh. Namun, temuan berupa sperma yang terawetkan beserta dengan inti selnya ini menurut Archer di luar dugaan dan istimewa. Riset dipublikasikan di jurnal Royal Society B.
sains.kompas.com
Bersama sel sperma, ditemukan juga organ Zenker, organ berbahan kitin, berfungsi mentransfer sperma kepada betina, yang terawetkan dengan baik. Panjang sperma ostracoda 1,3 mm, sedikit lebih besar dari ukuran ostracoda itu sendiri dan 23 kali lebih besar dari sperma manusia (sekitar 0,055 mm).
"Ini adalah fosil sperma tertua yang pernah ditemukan," kata Mike Archer, peneliti Sekolah Biologi, Kebumian, dan Lingkungan, Universitas New South Wales, yang telah mengekskavasi Riversleigh selama 35 tahun.
Cerita penemuan fosil sperma tertua itu bermula ketika Archer bersama rekannya, Suzanne Hand dan Henk Godthelp, mengoleksi spesimen ostracoda dari situs Bitesantennary di Riversleigh pada tahun 1988.
Sampel itu lalu dikirim kepada John Neil, spesialis ostracoda dari La Trobe University. Neil bekerja sama dengan spesialis lain, Renate Matzke-Karasz dari Ludwig Maximilian University, di Munich, dan Paul Tafforeau dari European Synchrotron Radiation Facility di Perancis.
Analisis mikroskopik pada spesimen menunjukkan bahwa organ dalam makhluk itu masih dalam kondisi baik. Dalam organ dalam itu, ilmuwan menemukan sperma raksasa beserta inti sel-nya yang mengandung materi genetik.
"Sekitar 17 juta tahun lalu, situs Bisantennary adalah goa di tengah hutan hujan yang kaya keanekaragaman hayati. Ostracoda yang kecil hidup di genangan dalam goa yang yang terus diperkaya oleh kotoran ribuan kelelawar," ungkap Archer seperti dikutip Physorg, Rabu (14/5/2014).
Suzzane Hand, ahli kelelawar yang sudah punah, menuturkan, kotoran kelelawar bisa jadi juga memainkan peranan penting dalam mengawetkan sperma raksasa. Kotoran kelelawar membuat air kaya akan fosfor, memicu mineralisasi jaringan-jaringan lunak pada ostracoda.
Beragam temuan menarik dihasilkan dari ekskavasi di Riversleigh. Namun, temuan berupa sperma yang terawetkan beserta dengan inti selnya ini menurut Archer di luar dugaan dan istimewa. Riset dipublikasikan di jurnal Royal Society B.
sains.kompas.com
Monster Laut Purba Baru Ditemukan, Disebut "Hiu Godzilla"
Monster laut yang merupakan salah satu jenis hiu purba itu ditemukan di pegunungan Monzano, sebelah timur Albuquerque, New Mexico. Hodnett pertama kali menemukan ujung hidung hiu itu yang tertancap pada sebuah batu sebelum kemudian menggalinya.
Hodnet dan tim peneliti yang terlibat penemuan menyebut jenis hiu purba itu sebagai "hiu godzilla". "Kami menyebutnya demikian karena karakteristik fisiknya," katanya seperti dikutip Discovery, Kamis (15/5/2014).
Beberapa karakteristik yang menyerupai godzilla, menurut peneliti, adalah gigi yang pendek dan tajam, tulang sirip punggung yang lebih besar dari bagian tubuh lainnya, kulit tubuh yang kasar menyerupai reptil, serta ukurannya yang sangat besar.
"Rata-rata ikan yang ditemukan di lokasi penemuan berukuran 7 inci. Fosil hiu terbesar yang pernah ditemukan sebelumnya hanya 1,5 kaki. Hiu godzilla yang ditemukan berukuran 7-9 kaki dan akan meneror makhluk-makhluk kecil di sekitarnya," kata Hodnett.
Analisis dengan CT Scan mengungkap bahwa hiu godzilla ini punya wajah yang tak kalah aneh. Bagaimana tidak, spesies ini memiliki gigi di bibir. Gigi di dalam mulut tetap ada, tetapi jenis ini memiliki gigi ekstra di luarnya.
Apa gunanya? Hodnett mengatakan, tak seperti hiu modern yang bisa langsung memangsa dengan membuka mulut, jenis hiu purba ini harus mendorong rahangnya ke arah mangsa terlebih dahulu sebelum memakannya.
"Jadi memiliki gigi di bibir mungkin membantu memegang dan mengamankan mangsa sebelum membunuhnya. Sederhananya, gigi ekstra di luar mulut hiu godzilla memberi kemampuan menggigit yang lebih baik dengan rahang yang dimilikinya," urai Hodnett.
"Rata-rata ikan yang ditemukan di lokasi penemuan berukuran 7 inci. Fosil hiu terbesar yang pernah ditemukan sebelumnya hanya 1,5 kaki. Hiu godzilla yang ditemukan berukuran 7-9 kaki dan akan meneror makhluk-makhluk kecil di sekitarnya," kata Hodnett.
Analisis dengan CT Scan mengungkap bahwa hiu godzilla ini punya wajah yang tak kalah aneh. Bagaimana tidak, spesies ini memiliki gigi di bibir. Gigi di dalam mulut tetap ada, tetapi jenis ini memiliki gigi ekstra di luarnya.
Apa gunanya? Hodnett mengatakan, tak seperti hiu modern yang bisa langsung memangsa dengan membuka mulut, jenis hiu purba ini harus mendorong rahangnya ke arah mangsa terlebih dahulu sebelum memakannya.
"Jadi memiliki gigi di bibir mungkin membantu memegang dan mengamankan mangsa sebelum membunuhnya. Sederhananya, gigi ekstra di luar mulut hiu godzilla memberi kemampuan menggigit yang lebih baik dengan rahang yang dimilikinya," urai Hodnett.
Sumber: Kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
Menurut Riset, Jodoh Kita Cenderung Orang yang Ber-DNA Sama
Cukup sering disebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Namun, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia ternyata memiliki DNA yang sama.
Ben Domingue dari University of California meneliti 800 pasangan suami istri di dunia dan pria dan wanita yang sengaja dipasangkan secara acak. Ia menganalisis DNA orang-orang itu dan membandingkan dengan pasangannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepasang suami istri cenderung memiliki kesamaan genetik. Ini seperti ungkapan dalam bahasa Inggris, "birds of the same feather flock together", mereka yang memiliki kesamaan berkumpul atau bersatu.
Domingue mengatakan, hal itu bisa jadi merupakan konsekuensi dari orang yang cenderung memilih pasangan dari etnis yang sama atau tinggal berdekatan. Orang juga cenderung memilih pasangan dengan tinggi, hobi, dan latar belakang pendidikan yang sama.
Diberitakan Daily Mail, Selasa (20/5/2014), riset yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini bertentangan dengan hasil riset sebelumnya yang menemukan bukti bahwa manusia cenderung tertarik pada yang berbeda.
Riset sebelumnya menyatakan, manusia memilih pasangan yang berbeda dengan alasan meningkatkan kekebalan tubuh. Bila mengawini individu yang bertolak belakang, keturunan akan memperoleh keuntungan berupa kekebalan terhadap lebih banyak sumber penyakit.
Hasil penelitian kali ini sejalan dengan hasil studi peneliti State University of Michigan pada 2010 yang menyatakan bahwa manusia cenderung memilih jodoh yang merupakan cermin dari dirinya.
Sumber: Kompas.com
*Hak cipta milik kompas.com
Getah Wangi yang Nyaris Punah
| Sumber |
Dalam jalur perdagangan mereka di sepanjang pantai barat Sumatera, kristal dari getah pohon kapur (Dryobalanops aromatica atau Dryobalanops champor) ini hanya bisa ditemukan di Pelabuhan Barus atau Kapuradwipa. Kapur dari Barus ini dicari raja-raja Mesir untuk mengawetkan jasad mereka karena kualitasnya paling bagus. Mumi Ramses II dan Ramses III konon juga dibalsem dengan kapur barus yang sudah dicampur dengan rempah-rempah dari Ophir, nama gunung di pedalaman Barus.
Kapur barus atau kamper sudah dikenal oleh pedagang Mesir, Arab, dan Timur Tengah lainnya sejak abad ke-7-16 Masehi. Selain untuk membalsem mayat, kamper juga berfungsi sebagai bahan baku obat-obatan dan parfum (Barus Sejarah Maritim dan Peninggalannya, Irianti Dewi, 2006). Nama kota Barus sendiri berasal dari komoditas kapur barus yang ramai diperdagangkan di pelabuhan itu sekitar abad ke-7-16 Masehi.
Kini sulit untuk melacak keberadaan pohon kamper yang dulu bisa menghasilkan kristal seharga emas. Di daerah Barus, pohon kamper itu hanya tinggal beberapa batang saja. ”Pohon kamper hilang karena banyaknya penebangan liar,” kata Juardi Mustafa Simanulang, pemerhati sejarah Barus, ketika mengantarkan kami ke Desa Siordang, Kecamatan Sirandorung, untuk melihat satu-satunya pohon kapur tua yang masih tersisa.
Pohon besar itu menjulang di tengah perkebunan milik warga. Tingginya mencapai belasan meter, batangnya tegak lurus dengan kulit batang berwarna coklat keputihan. Ketika daunnya dipetik, menguar bau wangi segar.
Batang pohon itu harus dibelah untuk mendapatkan kristal getah yang tersimpan di dalam batang. ”Kristal kapur itu dulunya ditemukan saat orang menebang pohon untuk keperluan rumah atau membuat kapal. Ketika batang pohon ditebang, batang itu mengeluarkan getah, dan jika dibiarkan akan mengering menjadi kristal,” kata Juardi.
Selain untuk mengawetkan mayat, getah kamper juga menjadi bahan baku pembuat dupa wangi. Entah benar atau hanya berseloroh, Juardi mengatakan bahwa bahan baku untuk dupa yang dihadiahkan tiga raja saat kelahiran Yesus juga didatangkan dari Barus.
Di tempat ia tumbuh, pohon kamper ini sudah menjadi salah satu tanaman langka. Menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), status pohon ini masuk kategori daftar merah, yaitu keberadaannya kritis atau terancam punah. IUCN merupakan lembaga konservasi keanekaragaman hayati.
Kalau dibiarkan tumbuh, diameter batang pohon kamper bisa mencapai 70 cm-150 cm dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Batangnya akan mengeluarkan aroma kapur wangi bila dipotong. Di Indonesia, pohon ini hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan saja. Beberapa daerah di Malaysia, seperti Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Serawak, juga menjadi habitat pohon kamper.
Selain Dryobalanops aromatica, tanaman penghasil kamper lainnya adalah Cinnamomum camphora (pohon kamper). Namun, jenis pohon ini hanya tumbuh di China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Vietnam.
Di masa lalu, pencarian getah kamper di Barus lekat dengan mitos persembahan. Para pencari kapur barus memiliki kepercayaan tentang larangan dan pantangan terkait dengan pencarian getah kamper.
Setiap pohon memiliki kadar karena kadar getah yang berbeda-beda, ada yang banyak dan ada pula yang sedikit. Sebelum mencari getah, penebang pohon harus melakukan ritual persembahan hewan korban kepada Begu Sombahon, sang makhluk penjaga hutan. Hewan yang dipersembahkan biasanya ayam, kerbau, dan kambing, tergantung permintaan Begu Sombahon.
Upaya penanaman kembali pohon kamper dilakukan sebagian warga Barus. Tanpa ritual persembahan, masyarakat berupaya untuk kembali menghidupkan pohon kapur barus, ikon yang menjadi asal-usul dikenalnya daerah tersebut.
Sumber: Kompas
Dengan Sel Punca, Ilmuwan Bikin "Pabrik" Air Mata dan Ludah
| Sumber |
Keberhasilan ini menunjukkan adanya potensi perawatan bagi orang-orang yang mengalami sindrom mulut dan mata kering, yang terjadi pada jutaan umat manusia.
Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Takashi Tsuji dari Tokyo University menumbuhkan kelenjar pada sebuah cawan laboratorium dari sel prekursor dan mencangkokkan organ primitif pada mencit.
Kedua kelenjar menyatu baik dengan jaringan yang berdekatan, terhubung dengan saluran sekresi kelenjar dan serabut saraf.
Ketika diujicoba, kelenjar air mata dan ludah merespon rangsangan dari makanan secara normal serta melindungi mencit dari infeksi mulut.
Diberitakan AFP kemarin, ilmuwan juga mengatakan bahwa kelenjar berfungsi baik dalam jangka panjang, dalam konteks mencit berarti 18 bulan.
Kegagalan untuk melubrikasi mata, atau dikenal dengan kondisi corneal xerosis, bisa berbahaya bagi pengelihatan.
Sementara itu, jutaan orang menderita xerostomia, dimana kekurangan saliva mengakibatkan kesulitan untuk menelan dan membuat mulut rentan terinfeksi.
"Beberapa masalah harus diselesaikan sebelum penggunaan kelenjar hasil rekayasa bisa diaplikasikan," kata Tsuji. Salah satu masalah yang harus diselesaikan adalah bank sel punca.
Hasil penelitian Tsuji dipublikasikan di Nature Communication edisi terbaru. Tim Tsuji sebelumnya juga berperan dalam pengembangan regenerasi organ ektodermal, meliputi upaya menumbuhkan kembali gigi dan rambut.
Sumber: Kompas
Berang-berang Punya "Kentut" Beraroma Vanila
| Sumber |
"Saya mengangkat ekornya, lalu mendekatkan hidung saya ke pantatnya," kata Joanne Crawford, pakar ekologi satwa liar di Douthern Illinois University.
"Orang berpikir saya gila. Saya katakan kepada mereka, ini berang-berang, bau (pantatnya) enak," ungkap Crawford seperti dikutip National Geographic, Selasa (1/10/2013).
Castoreum adalah senyawa yang kebanyakan berasal dari kantung castor berang-berang, terletak di antara pelvis dan pangkal ekor.
Karena letaknya yang berdekatan dengan kelenjar anus, castoreum kadang merupakan kombinasi antara sekresi kelenjar castor, kelenjar anal, dan urine.
Castroreum merupakan hasil diet unik berang-berang yang berupa daun dan kulit kayu. Baucastoreum menyerupai vanila.
Oleh karena baunya yang menarik, castoreum dimanfaatkan sebagai bahan aditif untuk aroma. Food and Drugs Administration (FDA) di AS menyatakan bahwa castoreum merupakan bahan aditif yang aman.
Penggunaan castoreum untuk aroma sudah berlangsung sejak 80 tahun lalu. Senyawa itu dipakai untuk parfum dan makanan.
Dengan adanya hal ini, boleh jadi aroma pada makanan kita berasal dari castoreum yang dihasilkan berang-berang.
Sayangnya, ada atau tidaknya aditif berupa castoreum dari berang-berang tak mudah diketahui. Berdasarkan ketentuan FDA, castoreum bisa dicantumkan sebagai "penambah aroma natural" saja.
Sumber: kompas
Kesadaran Riset Industri Tinggi, Tapi Dukungan Rendah
| Sumber |
Hal tersebut diungkapkan oleh dewan juri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Science Based Industrial Innovation Awards, LT Handoko dan Erman Aminullah, saat ditemuiKompas.com, pada Selasa (1/10/2013) kemarin.
"Yang dilakukan beberapa industri itu terus terang di luar dugaan kita. Banyak yang kita tidak tahu," kata Handoko.
Handoko yang menjadi juri dalam kategori physical science mengatakan, salah satu inovasi berbasis riset yang dilakukan industri adalah pembuatan material serupa plastik dari bahan baku ketela. Tidak cuma berhasil diciptakan, material itu juga telah diekspor dan digunakan sebagai pengganti plastik.
Inovasi lain adalah sistem billing yang dibuat oleh perusahaan teknologi informasi yang tidak hanya dipakai lembaga dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Sementara Erman mengungkapkan bahwa riset dan inovasi dalam bidang life science juga tak kalah mumpuni. Untuk menghasilkan produk, beberapa industri di Indonesia melakukan riset-riset sains dasar yang tak kalah hebat dengan negara lain.
"Banyak riset yang telah dilakukan dan itu mendasar, seperti riset kanker dan sel punca. Industri Indonesia bahkan ada yang memiliki pusat riset di luar negeri," ungkap Erman.
Erman dan Handoko sepakat, walaupun potret secara umum industri Indonesia masih minim riset, minat kalangan industri untuk melakukan penelitian agar menghasilkan inovasi sebenarnya sudah tinggi.
"Industri sudah sadar bahwa inovasi penting untuk tetap hidup dan inovasi harus berbasis riset," kata Erman.
Lewat LIPI Science Based Industrial Innovation Awards, LIPI berupaya mengapresiasi industri yang telah melakukan riset dan mendorong industri lain untuk juga melakukannya. Namun, kata Handoko, niat industri perlu didukung kebijakan pemerintah yang memberi insentif serta proteksi bagi industri yang melakukan riset.
Sumber: kompas
Kadal Papua Nugini Berdarah Hijau
| Sumber |
Christopher Austin, biolog dari Lousiana State University, tertarik untuk mempelajari spesies kadal tersebut. Ia menjadikan riset tentang kadal itu sebagai riset doktoralnya di University of Texas.
Diberitakan National Geopgraphic, Senin (30/9/2013), Austin menemukan bahwa darah kadal spesies tersebut kaya akan senyawa biliverdin, salah satu molekul hasil pemecahan hemoglobin selain bilirubin.
Pada manusia, biliverdin dikeluarkan dari dalam tubuh lewat saluran pencernaan. Namun, pada kadal ini, biliverdin diakumulasi di dalam darah. Senyawa inilah yang menyebabkan darah, dan bahkan jaringan, tulang, dan lidah kadal ini punya warna hijau.
Meski penyebab warna hijau sudah terungkap, bukan berarti seluruh misteri kadal ini terungkap. Jika manusia mengakumulasi biliverdin, seperti orang yang mengalami gagal hati, maka akan terjadi jaundice atau bahkan kematian. Namun, kadal ini sehat-sehat saja.
Austin menduga bahwa akumulasi biliverdin dalam darah memang merupakan bentuk adaptasi agar Prasinohaema tahan dari serangan plasmodium yang menyebabkan malaria. Namun, hal itu belum bisa dipastikan.
Kini, Austin melakukan pekerjaan baru dengan mengurai genom kadal ini serta membandingkannya dengan kadal lain yang berdarah merah untuk melihat perubahan genetik yang mungkin menjawab pertanyaan tentang toleransi pada biliverdin dan resistensi dari plasmodium.
Sumber: kompas.com
Langganan:
Postingan
(
Atom
)